Tampilkan postingan dengan label BERNAFAS DALAM LUMPUR / 1970. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BERNAFAS DALAM LUMPUR / 1970. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Februari 2011

BERNAFAS DALAM LUMPUR / 1970


   
 
Triologi, yang pertama "Bernafas dalam Lumpur" dan kedua "Noda Tak Berampun" yang terakhir, "Kekasihku, Ibuku".
 
Film ini cukup menghebohkan, cukup berani di saat itu, produksi tahun 1970 banyak menampilkan seks, perkosaan dan dialog kasar.Cerita aslinya, "Berenang dalam Lumpur" dimuat bersambung dalam majalah "Varia". Kerja sama dengan Prospex Trading Coy. (Hongkong). Film Indonesia pertama yang menonjolkan seks, perkosaan dan dialog-dialog kasar seperti "daripada dijepitin pintu", "sundel" dll. Pernah dilarang diputar di Bandung oleh Kodim setempat. Film yang laris dan cukup menghebohkan. Sukses ini membuat produser/sutradaranya membuat lanjutannya menjadi sebuah trilogi, Noda Tak berampun & Kekasihku Ibuku

Melalui “Bernafas dalam Lumpur” (1970) arahan sutradara Turino Djunaidy, Suzanna menerima penghargaan Runner Up I aktris terbaik versi Persatuan Wartawan Indonesia (1970-1971). Dalam film ini ia berperan sebagai perempuan desa yang berangkat ke kota dan terjebak kehidupan keras di kota. Film ini sempat dilarang diputar oleh Kodim Bandung karena penggunaan kata-kata kasar di dalamnya. Melalui film ini citra Suzanna berubah seiring pertambahan usianya, dari aktris cilik ia menjadi salah satu simbol erotisme perempuan dalam film Indonesia, lalu ke Ratu Horor.

Dan juga disaat produksi film Indonesia setelah lesu sekian lama. Film ”panas” Bernafas Dalam Lumpur (1970) yang dibintangi Suzanna disebut-sebut sebagai pendongkrak maraknya produksi film di awal era 1970.

Supinah kemudian bernama Yanti (diperankan Suzanna) terpaksa meninggalkan anaknya di kampung untuk mencari suaminya yang sudah lama berusaha di Jakarta. Harapannya pupus setelah mengetahui bahwa suaminya sudah menikah lagi dan malah mengusirnya.



Dalam keadaan terlunta-lunta, ia terperangkap dalam jaringan perdagangan wanita. Pertemuannya dengan Budiman (Rachmat Kartolo), anak orang berada yang bertaruh dengan kawan-kawannya agar membawa pacar pada suatu pesta, adalah awal dari perubahan perjalanan hidup Supinah. 
Lewat liku-liku peristiwa yang dialami Supinah dan Budiman, akhirnya mereka menikah di kampung halaman Supinah. Bagian cerita Triologi Yang pertama "Bernafas dalam Lumpur" yang Kedua "Noda Tak Bertuan "dan yang terakhir, "Kekasihku, Ibuku".


27 Maret 1971
Idris yang laris
DIACHIR film, Rima Melati hilang ingatan dan djatuh kedjurang. Ia bangun, melangkah terbata-bata dan djatuh lagi. Dan dari belakang lajar terdengar suara -- bukan musik, tapi sebuah njanjian tunggal: ** Ditengah fadjar baru menjinari hidupnja Datang angin membadai, menghempaskan mawar kembali lunglai ** Dengan memasukkan vokal -- dibawakan Tanti Josepha -- pada bagian Noda Tak Berampun itu, Idris Sardi membuat sesuatu jang terhitung baru dalam ilustrasi film di Indonesia dan tjukup memuaskan. Ini diakuinja ketika ia berkata: "Itulah puntjak karja saja selama membuat ilustrasi". Lumpur-djahanam. Tidak salah. Idris, jang berkat iringannja untuk Bernafas Dalam Lumpur mendapat hadiah pertama pada Festival Film Asia ke-16 di Djakarta tahun lalu, konon menginginkan beberapa perbaikan dalam lapangan dimana ia turut bekerdja. Usaha ini musti datang pertama kali dari sang musikus sendiri: "Itu berarti pengertian kepada musik ilustrasi sebagai satu bagian jang harus sinkron dengan keseluruhan film", ia berkata. Dan dengan tidak lupa menjebut komposisi Trisutji Djulham dengan orkestrasi mewah dari Adi Dharma. Idris memberi tjontoh sebuah gubahan jang "baik untuk didengar bukan untuk ilustrasi". Sebagai ilustrasi musik film memang diharap menterdjemahkan suasana dari semua jang dilihat penonton. Ini pun bisa ditjapai dengan mempertebal warna pada tema. Untuk Malam Djahanam misalnja, jang bermain didaerah Lampung, Idris mentjoba mengangkat warna dasar lagu-lagu daerah itu. Tapi untuk tugas-tugas lebih landjut -- termasuk usaha penondjolan suasana batin jang berhubungan dengan watak peran-peran -- konon musik film di Indonesia belum begitu dipertjaja, setidaknja belum setingkat dengan kepertjajaan jang diberikan kepada sound-effect. Terhadap ini Idris mengeluh: "Pengertian sutradara kita mengenai ilustrasi musik sudah kuno sehingga bertubrukan dengan pengertian saja. Padahal dia bertindak seperti Tuhan!" 

Dan, dibawah sorot mata Beethoven didinding, pemusik jang pada umur 17 sudah menggondol hadiah pertama musik sentimentil pada Festival Pemuda Sedunia di Warsawa ini menempelkan telapak tangannja kedjidat, kemudian mengkombinir berbagai matjam nada jang riuh: sebuah peperangan. "Nah, sama sekali tidak ada sound-effect disitu. Dari mula sampai achir musik, musik semata-mata". Pitung. Musik semata-mata, itulah jang masih sulit di Indonesia -- walaupun tanpa mengingkari seratus persen djasa operator jang menanggapi sound-effect. Pun itu kabarnja belum perlu. Hubungan elementer antara crew sendiri masih mungkin dibangun lebih baik. "Saja meminta satu pengertian seragam antara sutradara, operator dan ilustrator sebelum sebuah film dibuat", Idris berkata. "Harus ditjari kesamaan pendapat dibagian-bagian mana sadja suara pemain, sound-effect atau musik jang menondjol". Dengan tidak lupa memudji pelaksanaan kerdjasama dengan Turino Djunaidi, musikus 30 tahun jang sudah menangani sekitar 25 film dan merasakan sukses materiil ini mengeluh dengan wadjahnja jang putjat: "Saja menghadapi pekerdjaan bukan asal dapat duit. Kalau timbul ketidak-tjotjokan, saja sebenarnja ingin mengundurkan diri tapi sudah tidak mungkin toch? Kotrak sudah ditanda-tangani. Itulah jang kadang-kadang menekan saja. Perasaan saja tak puas". Dan batuk tiba-tiba menggojangkan tubuhnja jang terbungkus dalam djas kuning -- sedang sakit pegel-linu. "Tjoba pikirkan kerdja produser. Untuk Si Pitung saja cuma diberi waktu sekali buat menjaksikan film jang harus saja buat ilustrasinja, dan kerdja saja dibatasi tjuma sehari. Besoknja harus ikut ke Djepang untuk prosesing". Tapi apakah Idris tjukup puas dengan dirinja sendiri? Biolawan jang pernah dituduh mendjiplak Zacharias ini -- "Hanja karena karakter gesekan kami sama dan saja suka memainkan partitur jang dia bawakan", katanja -- berhenti bitjara tentang film, dan berpindah kepada musim: "Memang saja sedang mengalami musim lagi, seperti dulu. Tapi musim di Indonesia ini sangat singkat. Saja ingin melalui musim saja dengan mendjaga diri dari kemerosotan mutu. Saja ingin beladjar ilustrasi film di Perantjis atau Djerman misalnja, atau setidaknja berhenti sementara dan mentjari nilai-nilai baru. Sebab diluar, musik sudah begitu madjunja". Benar. Hanja apakah setelah ketemu jang baru dia masih akan laris. Itulah soalnja.


KE HEBOHAN SUZZANA
06 Maret 1971
Dan bintang-bintang berbitjara

SUZANNA: Tak ajal lagi dialah salah satu bintang wanita terbaik kini dengan harga tertinggi -- sekitar Rp 1 djuta tiap kontrak. Paling tidak ia telah kembali dengan kemenangan baru lewat Bernafas Dalam Lumpur. Saja seperti tak melihat apa-apa selama bermain aktor jang begitu dekatpun hanya seperti bajang-bajang hitam -- djuga ketika adegan perkosaan itu. Dalam memerankan satu tokoh, saja merasa bukan Suzie (jang beraksen Djawa dalam bitjara, jang grapjak, jang ramai terus seperti anak-anak sepandjang usia) ketika film selesai dan dibidangkan dalam preview. "Dalam preview itu saja melihat bagaimana saja disana, dan agak kaget: kok begitu". "Dalam BDL pada adegan buka-pakaian saja bertanja pada bung Turino: kutang djuga dibuka atau tidak? Turino berfikir sebentar. Dia tahu saja tak berkeberatan djika memang seharusnja demikian, tapi achirnja mendjawab: Tak usah, toch akan dipotong sensor". Lalu, seraja terus dengan kakinja jang bergojang-gojang dibangku -- seperti ia tak pernah bisa djenak duduk -- ia menambahkan: "Saja tak berkeberatan apa-apa tentang sex itu meskipun lama-lama bisa membosankan karena hanja soal buka-membuka pakaian terus-menerus. Saja setudju tjiuman dalam film, dan saja tak berkeberatan melakukannja, meskipun 10 tahun jang lalu saja tak akan berani. Dulu ada adegan dimana saja pakai pakaian-mandi duduk dengan satu kaki melipat, dan itu dipotong sensor. Sekarang sudah lebih banjak kebebasan, dan mungkin lima atau sepuluh tahun lagi orang akan menerima sex dalam film dengan wadjar. Tidak baik djika sex terlalu ditutup-tutupi, tidak baik djuga terlalu terbuka. Sekarang orang bikin film untuk sex-nja dan tidak untuk tjeritanja: terlalu dipaksa-paksakan". Film apa misalnja? "Saja nggak mau bilang". Anaknja jang tertua 10 tahun. Adakah anak itu melihat filmnja? Ibu dari dua anak itu mendjawab: "Tidak. Belum boleh". 

Tapi pada suatu ketika ia mendengar anak-anak tetangganja berbitjara dengan anaknja tentang beberapa adegan dalam BDL. Esoknja si anak bertanja: "Mama, benarkah oom Farouk menempeleng mama?" Farouk adalah Farouk Avero, jang memainkan peran Rais sang germo, dan Suzie mendjawab: "Benar, tjuma main-main". "Dan mama buka badju?" "Benar", djawab sang ibu, "seperti jang Ari lihat sekarang". Dengan menatap djauh keluar pintu studio ia kemudian berkata: "Saja tidak bisa berbohong kepadanja, itu tidak baik. Dia seperti anak-anak lain sekarang, sudah sering melihat gambar wanita-wanita buka badju, dan buka beha, di madjalah-madjalah jang toch tidak bisa saja sembunjikan. Nampaknja ia sudah terbiasa dengan itu dan tak punja fikiran djelek. Saja djuga tjeritakan kepadanja bahwa djaman dulu pun perempuan Bali tidak pakai kutang, dan itu tidak apa-apa". *** NURNANINGSIH: "Suzanna berani", kata Nurnaningsih. "dan saja terharu melihatnja dalam Bernafas. Tapi saja tahu Suzie telah berfikir agak pandjang. Ia memikirkan perkembangan anak-anaknja bagaimana anak itu nanti kalau diledek teman sekolahnja sebagai anak dari bintang film jang dituduh suka telandjang." Nurnaningsih sendiri seorang ibu bersama 3 anak jang berasal dari 3 suami. Siapapun jang kini berumur diatas 5 tahun akan mengingat wanita ini karena gambar telandjangnja jang menggemparkan orang kurang lebih 15 tahun jang silam: seorang perempuan Indonesia jang begitu berani, begitu nekad dan mungkin djuga begitu banjak ditjertja. "Waktu itu saja hanya ingin terkenal seperti Marilyn Monru. Waktu itu saja ingin semua mulut laki-laki menjebut nama saja seperti menjebut nama MM". Nurnaningsih kini tinggal disebuah alamat jang sulit diketemukan, disebuah bilik ketjil didjalan Tebet Utara berpapan nama "Kerontjong Harapan Masa", sebuah bangunan mirip rumah jang bukan rumahnja. Ia mendjadi penjanji tetap rombongan musik itu, sambil membuka usaha ketjil mendjahitkan pakaian wanita, sambil memberi kursus bahasa Inggeris buat anak-anak rekan artisnja dan sambil sekali-kali main film. 

Dalam film Sarinande Noda Tak Berampun dia mendjadi seorang perempuan setengah baja jang membajar laki-laki untuk menidurinja. Disana ia hanja membuka badju, mentjubit-tjubit sambil tertawa-tawa -- sonder telandjang. "Sex bukan kemauan manusia", dibiliknja jang sempit itu ia berkata kepada reporter TEMPO Harun Musawa, "sex termasuk pemberian Tuhan. Tuhan membiarkannja sedang Ia Maha Kuasa, mengapa? Why? Dan manusia djuga tidak melarang sedang sebenarnja mereka bisa melarang kalau film-film atau kehidupan sex jang sekarang dianggap salah". Kini, 46 tahun, ia masih rupawan, riang, ramah dan bertekad: "Sampai mati saja akan tetap main film". Ia minum pil pemberian Suzanna, Bon Korets, untuk melangsingkan tubuh. Adakah ia akan memerankan adegan berani sex? "Tidak, saja tahu diri. Sudah tua". Dan anaknja, Julius, 15 tahun, menjela pertjakapan: "Ibu 'kan sudah tua. Tidak boleh telandjang-telandjang lagi. Biar Suzanna sadja, jang masih muda". Lalu seperti menjesal: "Dulu saja tanpa fikir-fikir berani melakukan itu, karena tak ada ingatan kepada anak-anak. Kini Paula Rumokoy djuga berani dengan adegan-adegan sex mungkin karena tak ada penghalangnja. Paula 'kan masih gadis dan bebas?" *** PAULA RUMOKOY: Paula memang gadis, bebas dan berani -- paling tidak untuk ukuran jang berlaku kini. 

Ia, 22 tahun mungkin prototip anak sekarang dikota besar: pernah ditahan polisi karena ngebut, mendjadi model gratis untuk fotograf-fotograf -- diantaranja sebuah pose telandjang dari belakang -- mengikuti perlombaan ketjantikan, bertjita-tjita djadi peragawati lalu masuk kedunia film, dan sedjak beberapa lama hidup bersama Bobby Suhardiman meskipun mereka "belum punja rentjana untuk menikah". Matanja memandang kuat, berani, djeli dan indah: milik seorang gadis jang bangga akan kemudaannja dan bersahadja ditengah kemewahan sekitarnja. Tapi sebagaimana banjak anak-anak jang satu generasi dan satu lingkungan hidup dengannja, ia lurus, tidak banjak berfikir tentang apa jang telah terdjadi dan akan terdjadi. "Apa jang sekarang ja sekarang", katanja. Dan jang sekarang ialah reputasinja sebagai bintang baru dengan 17 buah film dan satu sikap enggan dengan adegan-adegan berani sex -- meskipun nampaknja ia tak ingin reputasi itu melekat pada dirinja: "Oh, jang lebih berani dari saja banjak sekali. Terutama figuran-figuran. Mereka mau seluruhnja telandjang, hanya pakai tjelana dalam". Adakah Paula bersedia bertjiuman dalam film? "Nggak enak kalau harus bertjiuman. Mana panas, banjak lampu-lampu, banjak orang. Lagi kalau tidak perlu buat apa. Seperti telandjang: kalau mau ditondjolkan itunja sadja ja djorok. Bisa djadi tjemplang. Seperti Farida dalam Palupi. Buat apa? Lagi pula mainnja djelek ...". Adakah Paula masih bersedia main film dengan adegan-adegan tempat tidur? "Saja sudah kapok. Film saja jang baru tidak punja adegan-adegan begitu". Ibunja tidak setudju dengan karir anaknja sekarang, dan menangis waktu menonton Bunga-Bunga Berguguran. Mengapa? Menurut Paula, karena "saja menangis dalam film itu". Sebagaimana ibunya, saudaranja di Menado djuga tidak setudju. "Kakak saja laki-laki menjuruh saja djadi pendeta seperti dia. Tentu sadja saja tidak mau. Kalau dia djadi pendeta, mengapa saja harus ikut-ikutan djadi pendeta". Tapi Paula tiap hari Minggu pergi ke geredja. 

Dalam kata-kata Rima Melati jang pernah mengasuh Paula: "Biar dia pulang djam 4 pagi, tapi djam 9 dia mesti kegeredja". Dan menurut pengakuannja sendiri dan pengakuan Rima, ia bahkan tidak suka kenightclub, tidak suka dansa, tidak merokok dan tidak minum. Lalu apa jang diingininja? "Kalau bisa terus main film sampai tua, seperti tante Fifi". Jang dimaksudkannja ialah Fifi Young. *** FIFI YOUNG: Tante Fifi berkata, dengan wadjah tjapek: "Saja kini merangkap mendjadi ibu mendjadi bapak dan pentjari nafkah buat anak-anak". Tidak mengherankan bila pelindung anak-anaknja ini, dalam usia jang lebih dari setengah abad, punja pendirian tersendiri: "Saja heran bahwa sensor begitu berani sekarang dengan membiarkan adegan-adegan sex. Dalam film Kris Mataram saja mengenakan rok untuk main tennis dan itu dipotong habis. Sekarang ini saja bertanja-tanja: adakah semua itu memang harus ada sex-nja? Apa tidak laku kalau itu tidak ada?". Bagi Fifi Young, nampaknja semua itu harus diterimanja dengan perasaan tertekan. "Tapi saja takut berbitjara kurang enak tentang film-film jang berani sex sekarang. Saja takut orang akan bilang: dia ngomong begitu lantaran sudah tua, djadi karena tidak bakal dapat peranan. Saja takut orang akan berkata lagi: tjoba seandainja dia masih muda, pasti dia djuga mau". Tapi memang menarik untuk mengetahui bagaimana sikap Fifi Young seandainja dia masih lebih muda sekarang. Beranikah? "Tidak, saja tidak berani. Terlalu risih rasanja". Dan ditjeritakannja bagaimana anak-anak sekarang dengan beraninja melepaskan pakaian dimuka kamera, meskipun itu hanja untuk stand-in sadja. "Sungguh terlampau berani. Ngeri deh, tante", sambungnja. Diantara bintang jang berani menurut Fifi Young, adalah Tuty Suprapto. *** TUTY SUPRAPTO: "Kebanjakan dari adegan-adegan sex di lajarputih itu hanja tipuan permainan kamera", kata Tuty - jang dalam Bunga-Bunga Berguguran disebut dengan Tuti S. sadja. Diatas tubuhnja jang tidak seramping sepuluh tahun jang lalu terpatjak wadjahnja jang ketjil dan masih nampak muda. Bagi beberapa sutradara, agaknja Tuty adalah tipe jang tjotjok untuk setiap tante girang jang sensuil, hangat, haus. "Saja djuga mendjadi sulit bila saja harus pergi dengan anak laki-laki saja: orang bisa menjangka saja adalah tante girang jang pergi dengan gigolonja". Mungkin karena itu, seperti kebanjakan bintang-bintang film Indonesia lain, Tuty seperti tidak ingin memelihara image lajar-putih itu. Meskipun melihat foto-foto dari filmnja jang terachir, Dibalik Pintu Dosa, ia nampaknja tidak enggan-enggan membuka pakaian untuk sebuah peran jang diberikan, Tuty berkata: "Saja tidak mau memainkan peran jang lebih berarti, misalnja buka beha. Sebagai wanita timur ........". Tuty berasal dari Djawa Barat.