Tampilkan postingan dengan label GARIN NUGROHO 1991 -. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GARIN NUGROHO 1991 -. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Februari 2011

GARIN NUGROHO 1991-



Garin muncul ketika film Indonesia sudah mulai ngos-ngosan nafasnya, dan dimana semua orang memaki film Indonesia yang terlalu sex, horor, dan asal-asalan. Makna dari film sudah meyimpang jauh dari harapan penonton, film-film baik sudah tidak ada, hanya beberapa saja, dan selebihnya...yah gitulah. 1992 adalah masa yang sulit dan mulai mati surinya film Indonesia akibat, produser yang menggampangkan tema dan bikin film hanya untuk uang saja, dan yang kedua karena politik ekonomi indonesia yang sedang amburadul sehingga tukar guling tekstil dengan film Amerika kebanjiran di sini. Selain itu juga pekerja film pindah ke stasiun TV swasta ada saat itu, komersial iklan dibutuhkan, sinetron dibutuhkan, video klip di butuhkan hingga ke acara talkshow TV juga. Maka mereka pindah ke lahan itu.

Selain itu juga, gaya film yang sangat populer saat itu adalah Teguh karya dan Arifin C.Noer...masih menggunakan konsep teaterikal dalam peran-peran mereka yang baik. Cerita tentang percintaan masih terus ada. Lalu muncul suatu gaya yang dimana orang terpana melihatnya, Cinta Sepotong Roti bukan cerita tentang cinta yang pada umumnya yang ada dalam film Indonesia sebelumnya. Cinta yang unik dan tutur berceritanya juga unik, sehingga tidak heran beberapa orang kurang bisa menangkapnya...maklumlah, barang baru dan gaya baru. Begitulah orang menyebutnya. Beberapa orang bahkan menyatakan mirip film luar negeri yang pernah dibikin, apakah ini peniruan atau pengulangan? Dari jaman dulu sudah terjadi hal itu. Beberapa orang menyatakan agak sulit mencerna, mungkin format fetival film International, mulailah orang membeda-bedakan mana film komersil, mana film untuk penonton umum, mana film untuk festival dan sebagainya. Tetapi yang pasti Garin muncul dengan sesuatu hal yang lain bagi perfilman nasional, tetapi bukan bagi perfilman International. Karena beberapa orang menyatakan film seperti itu sudah banyak yang bikin dan bahkan hampir mirip persis.

Film selanjutnya Garin muncul dengan film lainnya, dan semakin sulit untuk di cerna, sampai orang menyatakan itu film art, itu film berat, itu film untuk penonton khusus dan sebagainya, sehingga semakin terkotak lagi film - penontonnya - dan festival.

Apakah Garin sering menonton film-film dalam festival international sehingga ia membuat film yang berstandart festival international? Tidak ada yang tahu, tetapi film selanjutnya Garin ada film dengan gaya yang sering ada dalam film-film festival International sehingga banyak orang menyatakan, bikin film untuk festival. Apakah ini benar atau salah, menurut orang lain ini benar, tetapi menurut saya ini salah.

Nama :Garin Nugroho
Lahir :Yogyakarta, 6 Juni 1961
Pendidikan :
Insitut Kesenian Jakarta, jurusan Film dan Televisi
Fakultas Hukum, jurusan Sosiologi Hukum Universitas Indonesia

Ia beruntung memasuki dua organisasi pendidikan, yakni Institut Kesenian Jakarta (IKJ) jurusan Film dan Televisi, sekaligus Fakultas Hukum pada jurusan Sosiologi Hukum Universitas Indonesia pada periode tahun 1980-–1985, sebuah masa transisi dari sistem kesenian, dimana pola sanggar menuju pendidikan pada sistem SKS (Satuan Kredit Semester). Kemudian ia mengajar di IKJ dari tahun 1982 sampai tahun 2002, suatu fase ketika materi kuliah mengacu pada sistem perguruan tinggi umum, yang sesungguhnya tidak ia setujui.

Ia juga beruntung pada periode 1980-2003, ditengah berbagai persoalan-persoalan perubahan di Indonesia, menjalankan berbagai perjalanan. Dari wilayah kangguru di Wasur (Merauke) hingga berburu ikan paus di Lamalera (Nusa Tenggara Timur), dari wilayah Takengon (Aceh) hingga penis dance di Waris (Papua) dari sungai dekat Loksado (Kalimantan Selatan) hingga wilayah Taman Laut Bunaken, dan dari wilayah konflik Aceh dan Ambon hingga Kongres Papua di Jayapura.

Untuk memeriahkan hari kelahiran ke 250 komponis dunia Wolfgang Amadeus Mozart pada November 2006, Garin membuat film yang berjudul Opera Jawa yang diputar Di Wina, Austria. Film in sempat menuai protes keras dari WHYO (World Hindu Youth Organization) yang berhubungan dengan figur yang ada dalam Kitab Suci Ramayana seperti Bima, Rama, Shinta, Laksamana, Rahwana, Hanoman, yang divisualisasikan melenceng dari naskah dan teks Kitab Suci Ramayana’. Kisah Ramayana yang teks aslinya dirangkum oleh Maharesi Valmiki, yang merupakan kejadian nyata dan bukan sebatas legenda atau epos.

Lantas apa kata Garin Nugroho, menyikapi protes keras WHYO ? “Saya tidak sedikitpun punya maksud untuk melecehkan agama lain. Karena kami tidak mengangkat kisah Ramayana yang merupakan kisah suci dalam agama Hindu”. Tetapi adalah Opera Jawa’ mengangkat lakon yang diinspirasikan dari kisah Shinta Obong. “Lagi pula, film itu tidak mengisahkan sosok Rama, Rahwana ataupun Hanoman dalam Ramayana versi agama Hindu. Melainkan mengisahkan sosok Siti (Artika Sari Dewi), Setyo (Miroto) dan Ludiro (Eko Supriyantro)’,” jelas Garin.

“Ketiga sosok itu”, kata sutradara berbakat, dan peraih berbagai penghargaan internasional untuk karya-karya filmnya itu, “Bukanlah interpretasi dari sosok Rama, Shinta atau pun Rahwana. Namun mereka hanyalah pemain sosok Rama, Shinta dan Rahwana dalam Wayang Orang Jawa,” katanya, Bagi Garin, alih-alih memicu konflik agama, Opera Jawa justru berniat membawa pesan keagamaan. “Kami menghargai perbedaan, karenanya film ini mengusung tema perdamaian dan anti kekerasan,”’ ujarnya.

Pesan-pesan dalam Opera Jawa itu juga mengandung kedamaian dan anti ekstrimisme seperti yang saat ini terjadi. Belum lagi para pemainnya yang berasal dari berbagai kalangan penganut agama.

Dari berbagai perjalanan hidupnya selama ini, muncul sebuah pertanyaan yang sederhana dalam benaknya : apa yang harus dicatat dari berbagai pengalaman perjalanan tersebut ?

PUISI TAK TERKUBURKAN2001GARIN NUGROHO
Director
AKUINGIN MENCIUMMU SEKALI SALA 2003 GARIN NUGROHO Drama Director
DONGENG KANCIL UNTUK KEMERDEKAAN 1995 GARIN NUGROHO Documentary Director
SOEGIJA 2012 GARIN NUGROHO Drama Director
RINDU KAMI PADAMU 2005 GARIN NUGROHO Drama Director
BULAN TERTUSUK ILALANG 1994 GARIN NUGROHO
Director
MY FAMILY, MY FILMS AND MY NATION 1998 GARIN NUGROHO Documentary Director
OPERA JAWA 2006 GARIN NUGROHO Musical Director
CINTA DALAM SEPOTONG ROTI 1990 GARIN NUGROHO
Director
DAUN DI ATAS BANTAL 1998 GARIN NUGROHO
Director
SERAMBI 2006 GARIN NUGROHO Documentary Director
DIBAWAH POHON 2008 GARIN NUGROHO Drama Director
SURAT UNTUK BIDADARI 1992 GARIN NUGROHO
Director

DAUN DI ATAS BANTAL / 1998



 
Gagasan berangkat dari video dokumenter yang dibuat oleh sutradara yang sama, pesanan dari NHK Jepang, berjudul Dongeng Kancil untuk Kemerdekaan. Kalau video dokumenter tadi berupa dokumenter yang "difiktifkan" atau menjadi alat untuk menyatakan suatu sikap pada saat 50 tahun kemerdekaan RI, maka film ini adalah sebuah fiksi yang "ditabrakkan" dengan realitas kehidupan anak jalanan yang diperankan oleh mereka sendiri. Bentuk kisah mengambil siklus harian kehidupan para tokohnya: tiga anak jalanan (Kancil, Sugeng Heru) dan Asih (Christine Hakim). Yang terakhir ini boleh dibilang menjadi "ibu asuh" tiga anak jalanan tadi, yang punya bisnis sendiri (berdagang kembang dan batik) dan juga punya masalah sendiri dengan kehidupan pribadinya. Suaminya hanya datang untuk merampas duitnya. Ia sendiri akhirnya "pacaran" dengan laki-laki lain. Hubungannya dengan anak-anak juga bukan hubungan yang mulus. Selalu ada masalah, tapi mereka seolah saling membutuhkan juga. Kecuali kegiatan Asih, kegiatan anak-anak jalanan yang sudah banyak ditulis (kenakalan dan kebrengsekannya, namun juga sisi menusiawi yang mengharukan) dilukiskan dengan gaya "dokumenter". Tiga anak masing-masing kemudian meninggal. Kancil terbentur terowongan kereta, saat dia berada di atap kereta. Heru korban mafia asuransi anak-anak. Sugeng mati ditusuk sekawanan gang yang salah mengira bahwa Sugeng itu musuh yang mereka cari. Sugeng jadi masalah karena tak diterima kuburan akibat tak punya KTP. Kematian-kematian yang tiba-tiba ini --meski penuh masalah dan drama-- mengesankan sutradara dengan gampang menyelesaikan ceritanya. Kalaupun bentuk siklus hidup harian yang dijadikan bentuk pegangannya, maka "drama" yang sebetulnya sangat mencengkam itu tadi, menjadi kehilangan "dramanya". Film ini jadi seperti kalau orang membaca judul-judul koran saja.

Banyak orang berpendapat bahwa film ini jauh lebih mudah dimengerti dan enak ditonton dari pada film Garin sebelumnya yang sulit sekali untuk di paham, walaupun ada pembedaan film untuk festival dan film untuk umum (mungkin ini kurang tepat pernyataanya)

CHRISTINE HAKIM FILM

KANCIL
HERU
SUGENG
CHRISTINE HAKIM
KABRI WALI
DENNY CHRISTANTRA
SARAH AZHARI

BULAN TERTUSUK ILALANG / 1994



Bulan Tertusuk Ilalang adalah film mengenai perbenturan budaya Jawa dengan budaya Barat Modern. Dilatar belakangi oleh sebuah kisah tentang seorang anak yang mempunyai pengalaman buruk dimasa kecilnya karena sering dilecehkan oleh ayahnya. Suatu saat dia bertemu bertemu dengan seorang wanita yang telah lama tinggal di Amerika Serikat. Keduanya jatuh cinta dan disinilah perbenturan ini muncul.

Sukar diuraikan bahwa ada cerita dalam film yang lebih ingin memberikan kesan-kesan tertentu saja. Namun demikian, toh ada yang ingin dikatakan lewat sebuah kisah yang dituturkan secara tak teratur dan linier. Kisah yang bisa ditangkap dari serpihan-serpihan dialog yang sangat sedikit jumlahnya, maupun dari rentetan gambarnya. Yang ingin lebih ditonjolkan agaknya "perjalanan kejiwaan" tokohnya. Juga ingin dikesankan masalah kuno-modern dalam budaya Jawa, khususnya di Solo. Ilalang (Norman Wibowo) punya trauma masa kecil: mencintai ibunya dan kekerasan ayahnya yang sering menusuk jarinya dengan jarum atau kawat. Trauma ini terbawa hingga dewasa saat dia belajar pada seorang musikus tua kraton, Waluyo (Ki Soetarman). Partitur naskah ciptaannya sering disepelekan begitu saja dan ia juga jatuh cinta pada istri gurunya, Bulan (Ratna Paquita), gadis yang "mencari". Hubungan-hubungan ini tak ada yang menghasilkan kebahagiaan.

Proyek Dewan Film Nasional dengan maksud mengangkat film nasional di tengah kelesuan produksi, dan untuk diikutkan dalam FFAP 1995, Jakarta. Masa tayang yang tercantum sebelum lolos sensor.


FACULTY OF FILM & TV
NATIONAL FILM COUNCIL
JAKARTA INSTITUTE OF THE ARTS
DEPT. OF INFORMATION


News

‘Kejam’ nya Garin dalam membuat film, kadang terealisasi dalam beberapa film. Pada film Bulan Tertusuk Ilalang (1996), ada adegan bercinta yang berdarah. "Kejam"nya itu, ia tidak mau memakai trick. "Harus ada darah yang mengalir, dan pemain merasakan kepedihannya," kata ayah tiga anak itu dalam sebuah acara diskusi di Yogyakarta, Maret 2001.

Film ini diproduksi mengidahkan sistem KFT, yang dimana karyawan film dan TV yang membuat film harus terdaftar sebagai anggota KFT. Tetapi Garin tidak memakai yang menaung dianggota KFT. Ia banyak memakai kru film mahasiswa dan alumni baru dari IKJ, sehingga ia mendapat teguran dari KFT. Dan setelah itu lambat laut KFT melemah dan kini semua orang bebas membuat film, siapa saja boleh, biasa atau tidak bisa membuat film boleh membuat film, yang penting dananya ada. Walhasil....sejauh ini lebih banyak film sampah yang dibuat dari pada film yang bermutu.....sehingga orang kembali lagi mengenang KFT.
 

SURAT UNTUK BIDADARI / 1992




Beberapa orang bilang, ini hampir sama dengan film yang ada dalam festival international., apakah ini kesengajaan, atau tidak? Itu adalah isu yang kuat saat itu. Dengan munculnya isu itu, kita diajak untuk sering-sering menonton film-film yang ada di festival international. Walaupun film ini muncul di festival international dan mendapatkan beberapapenghargaan.

Seorang anak menulis surat kepada malaikat yang ia percaya adalah nyata. Ia bingung ketika ia tidak pernah mendapat jawaban. Lewa yang berumur 9 tahun memiliki sifat hiperaktif dan temperamental, karena kehilangan ibunya ketika ia masih sangat muda. Ia berteman baik dengan Berlian Merah, wanita muda yang cantik tetangga yang peduli kepada Lewa. Kakak Lewa, Malaria Tua adalah teman terbaik yang sepanjang waktu menjaga Lewa. Lewa percaya desa tempat ia tinggal dijaga oleh malaikat yang selalu, ia kirim surat.

T.P.I.
P.P.F.N.
P.T. MUTIARA ERANUSA FILM


MONICA OEMARDI
ADI KURDI
VIVA WESTY
WINDY PRASETYO BUDI UTOMO
NURUL ARIFIN
FUAD IDRIS
JAJANG PAMONTJAK
HOTALILI
IBRAHIM IBNU

News
Ketika syuting film Surat untuk Bidadari (1994) di Sumba, Nusa Tenggara Timur, ada adegan pemerkosaan. Bagi orang Sumba, adegan seperti itu tabu. Karena Garin bersiteguh, areal pembuatannya pun ditutupi dengan kain hitam. Tapi, ternyata, banyak warga setempat ingin menyaksikan pengambilan adegan "tabu" itu, mereka mengintip dengan memanjat pohon.

25 Juni 1994
Surat untuk bidadari: garin dipermalukan Pers?

Saya sedih membaca berita tentang kasus Surat untuk Bidadari karya Garin Nugroho di beberapa media. Film cerita yang menang di Festival Film Berlin (FFB) ke-41, untuk kategori Forum des Jungens (film-film alternatif) itu "dituduh" menjiplak film dokumenter Paraing Marapu. Tuduhan itu sangat disayangkan, seolah mereka meragukan kejujuran sutradara muda potensial ini. Setelah membaca berita tersebut di tabloid Citra dan harian Jawa Pos, ternyata tuduhan menjiplak tak terbukti, maka gugurlah tuduhan itu. Yang mengherankan saya, kok mereka bisa- bisanya menuduh begitu saja sebelum melihat kedua film tersebut: Surat untuk Bidadari dan Paraing Marapu. Lebih mengherankan lagi pernyataan Ali Shahab pada salah satu harian. Katanya, Garin jangan dibesar-besarkan, ia belum apa- apa. Ini jelas suatu pernyataan yang kurang simpatik dari seorang senior terhadap prestasi internasional Garin. Padahal, film tersebut mendapat penghargaan dari surat kabar lokal Jerman, Berliner Zeitung. Penghargaan itu berdasar hasil penilaian sembilan juri atas 39 judul film yang dipilih dari sekitar 500 film alternatif di seluruh dunia. Bukan hanya bisa lolos dari 39 judul film itu, tapi terpilihnya tiga film, salah satunya Surat untuk Bidadari, sebagai kebanggaan bagi bangsa Indonesia. Setahu saya penghargaan ini baru pertama kali dalam sejarah keikutsertaan Indonesia di forum internasional. Menurut saya, kemenangan itu adalah simbol dari kebangkitan generasi baru perfilman Indonesia. Garin adalah aset nasional. Lihatlah prestasinya: meraih Piala Vidia lewat film dokumenter Tepuk Tangan (1986), Tanah Tantangan (1989), dan penghargaan untuk Air dan Romi (1992) pada International Ecological Film Festival di Jerman (untuk film-film lingkungan hidup). Sebagai sutradara muda berbakat pada Festival Film Asia Pasifik (FFAP) di Seoul, Korea Selatan (1992), lewat Cinta dalam Sepotong Roti. Film itu dalam FFI 1991 terpilih sebagai film terbaik dan mendapat penghargaan dari Berliner Zeitung Prize (1994). Jadi, tak berlebihan bila menyebut Garin dkk. telah menyumbangkan sesuatu untuk negara ini, khususnya dalam pertumbuhan film Indonesia. Lebih-lebih di tengah ambruknya film (bioskop) nasional di Indonesia saat ini, penghargaan itu sebuah berkah. Apalagi Garin, selain seorang sineas, juga penulis resensi atau kritikus film yang baik di TEMPO. SYAHRIWIL Jalan Cipinang Kebembem 4 Jakarta 13230

19 Maret 1994
Menjadi tamu dulu sebelum tuan rumah

MASIH adakah film Indonesia? Jawab para juri di Festival Film Berlin, Jerman: ada dan pantas diberi penghargaan. Festival internasional selama sekitar 10 hari itu, berakhir 21 Februari lalu, memberi penghargaan "Berliner Zeitung Prize" kepada Surat untuk Bidadari karya Garin Nugroho. Memang, penghargaan itu bukan penghargaan utama. Dalam Festival Berlin ini, ada tiga kelompok yang dinilai, yang masing-masing dinamakan kelompok kompetisi, forum, dan panorama. Kelompok kompetisi itulah yang utama dan dalam festival ke-44 tahun ini pemenangnya adalah In the Name of Father karya sutradara Jim Sheridan. Film Garin dimasukan ke golongan film forum, dan terpilih karena dianggap, "Mengirim suasana surealistis dan menunjukkan bahwa Garin mempunyai potensi untuk menjadi pemimpin dalam gerakan New Wave," tulis Variety Weekly edisi Februari. Mestinya ini berita menggembirakan. Di tengah merosotnya film Indonesia, mutu maupun produksinya, Surat untuk Bidadari adalah sebuah harapan. Masalahnya, seberapa jauh film itu merangsang dunia film kita kini. Bila ukurannya adalah "menjadi tuan rumah di negeri sendiri", kita tampaknya mesti pesimistis. Pilihan-pilihan dewan juri dari festival apa pun cenderung tak mendapatkan penonton di bioskop-bioskop Indonesia. Termasuk, pilihan dewan juri Festival Film Indonesia, umpamanya Langitku Rumahku karya Slamet Rahardjo yang juga mendapat penghargaan di Festival Berlin untuk kategori film anak-anak. Memang ada kecualinya, misalnya film Taksi karya sutradara Arifin C. Noer, yang konon laris di negeri sendiri.

Film Indonesia yang bertahan hidup sampai sekarang adalah film-film yang tiba-tiba saja muncul. Maksudnya, yang proses pembuatannya singkat, biayanya bisa ditekan, ceritanya mudah dicerna, dan menyuguhkan adegan keras serta seks. Jangan tanya soal sinematografinya, aktingnya, skenario, cerita, penyutradaraan, dan lain-lain. Dengan film-film jenis itulah modal produser bisa balik. Tentu saja, film seperti itu pun berhak hidup -- dan memang bisa hidup. Masalahnya, tanpa imbangan film yang digarap dengan mengejar mutu, tak usah heran bila tahun lalu, dan mungkin juga tahun ini, Festival Film Indonesia absen: jumlah film yang layak dinilai dianggap tidak cukup. Ada yang bilang, politik menjadikan film Indonesia "tuan rumah di negeri sendiri" adalah kebijakan yang keliru. Dalam jargon itu terkandung arti bahwa film Indonesia mesti bisa hidup mandiri. Seperti sudah disebutkan, ternyata itu sulit, karena yang "laku" hanya film tertentu, yang tak membuka kesempatan lahirnya film-film yang "bisa dinilai" itu tadi. Bisa dipahami bila para produser atau calon produser surut nyalinya untuk membiayai film yang "layak dinilai", yang biasanya tak murah, setidaknya lebih mahal daripada film-film yang "laku". Bila kita percaya bahwa aktor yang baik, penulis skenario yang baik, juru kamera yang baik, sutradara yang baik memerlukan jam terbang untuk menghasilkan film yang baik, merosotnya produksi berarti juga makin kecil kesempatan menambah jam itu. Padahal, membuat film memerlukan keterampilan teknologi. Dan menurut pengamat dan pekerja film kita, sejauh ini soal teknologi itu masih menjadi kendala. Eros Djarot (sutradara Tjut Nya' Dien), Salim Said (pengamat film), dan Garin Nugroho, secara terpisah menganggap mutu teknologi pembuatan film kita masih rendah. "Sistem suara, kamera, laboratorium, dan semua infrastruktur industri perfilman harus dibangun dengan sungguh- sungguh," kata Eros kepada Leila Chudori dari TEMPO.

Tak usah membandingkan film kita dengan film Amerika, Inggris, Prancis, Italia untuk mengetahui betapa kita tertinggal. Tengok film RRC, Vietnam, Iran, India, Hong Kong yang punya karya-karya film yang mendapat berbagai penghargaan internasional. Di RRC, misalnya, ada Zhang Yimou (Lentera Merah, Ju Dou, Kisah Qiu Ju) dan Chen Kaige (Selamat Tinggal Selirku) setidaknya, yang karya-karyanya mendapat penghargaan internasional. "Negara macam RRC, Hong Kong, India, Iran memiliki infrastruktur perfilman yang sangat maju. Bukan hanya teknologinya, juga badan-badan perfilman mereka sangat aktif," tutur Garin. Tampaknya sudut pandang film Indonesia "menjadi tuan rumah di negeri sendiri" mesti digeser. Terbukti kebijakan yang menawarkan "gerak dari bawah" ini tak merangsang tumbuhnya perfilman kita. Mungkin, kita harus "bergerak dari atas". Maksudnya, kita harus mendukung, dengan menyediakan subsidi atau hal lain, lahirnya film-film yang bisa mendapatkan nama dalam festival-festival internasional dan bisa beredar di dunia internasional. Bisa jadi film ini pun tak laku di negeri sendiri, tapi ia akan membawa nama Indonesia di bioskop internasional. Dan siapa tahu, sebagaimana di Cina, para produser internasional akan menawarkan modal untuk sutradara- sutradara Indonesia. Secara langsung ini akan memberi kesempatan para pekerja teknik film meningkatkan keterampilannya. Dan itu mestinya menguntungkan. Setidaknya, jika isi masih belum dalam, dari segi gambar dan akting, katakanlah dari segi teknik, film Indonesia bisa dinikmati. Sebab, seperti kata Garin, "Kita harus membereskan dulu semua kekurangan teknis perfilman kita." Tampaknya film Indonesia perlu "menjadi tamu di luar negeri" dahulu sebelum menjadi "tuan rumah di negeri sendiri". Bambang Bujono

14 Mei 1994
Surat dari redaksi

TELEVISI, kini, menjadi bagian hidup dari setidaknya sebagian orang Indonesia. Itulah setelah sejumlah televisi swasta meramaikan media elektronik kita. Dari pagi sampai larut malam, bila punya waktu dan suka, Anda bisa nongkrong di depan pesawat televisi, dan bisa cetat-cetet mencari tayangan yang cocok -- meskipun jumlah saluran terbatas. Sulit tampaknya kini menghindarkan diri dari televisi: di rumah, di kantor, di ruang tunggu apotek, dokter, dan tukang cukur, di stasiun, di pusat perbelanjaan, bahkan di bus malam. Setidaknya secara sambil lalu pun kita akan kecipratan dari soal iklan, berita, musik, sampai film-filmnya. Suka atau tak suka ini merupakan kecenderungan baru dalam masyarakat Indonesia, dan mestinya itu punya dampak, terlihat ataupun tidak. Salah satu tugas pers adalah merekam perubahan beserta dampaknya dalam masyarakat. Untuk inilah, dalam nomor ini, untuk kedua kalinya, pembaca akan menemukan kolom yang kami sebut Tayangan, sebuah kolom khusus tentang masalah-masalah televisi dan pengaruhnya sehari-hari -- hal yang terlalu penting untuk diabaikan tapi kurang pas untuk selalu diangkat sebagai berita karena rutinitasnya. Pertama kali Tayangan muncul dalam TEMPO 30 April 1994, halaman 95. Bahwa dalam dua Tayangan penulisnya adalah Garin Nugroho, memang TEMPO menyerahkan kolom khusus televisi ini kepada sutradara yang belakangan suka omong tentang televisi itu. Dan sebenarnya saja, ide kolom khusus ini lahir beberapa bulan lalu ketika beberapa orang TEMPO mengobrol dengan Garin. Garin, 33 tahun, sutradara yang terhitung muda yang cepat mendapatkan nama. Film pertamanya, Cinta dalam Sepotong Roti, mendapat penghargaan sebagai film terbaik Festival Film Indonesia 1991.

Film dokumenternya, Air & Romi, meraih hadiah Film Artistik Terbaik di Festival Internasional Film Dokumenter tentang Ekologi di Jerman, akhir tahun 1992. Inilah film yang mendokumentasikan ketergantungan sejumlah warga DKI Jakarta pada air sungai yang butek dan penuh sampah. Dan film terbarunya, Surat untuk Bidadari, mendapatkan penghargaan dalam sebuah festival film di Berlin baru-baru ini. Di samping itu, ia adalah penulis resensi dan masalah film di beberapa media, termasuk TEMPO. Sutradara yang telah menyelesaikan lima film cerita dan 13 film dokumenter ini memang orang film yang punya perhatian luas. Untuk mempersiapkan Tayangan, Garin setiap hari harus merekam film-film televisi. Bahan untuk tulisan ini, menurut Garin, tak akan kering. Bahkan terlalu banyak. Karena itu, insya Allah, direncanakan Tayangan muncul sekali dua pekan. Tentu tak setiap film atau sinetron di televisi akan disorot. Garin memilih film-film yang mengandung berbagai dimensi: sosiologis, politis, dan estetis. Kolom khusus seperti ini bukan pertama kali di TEMPO. Dulu ada kolom tentang manajemen, disebut Kiat -- yang kini sedang direncanakan muncul kembalinya.


Sinema Indonesia Baru: Sebuah Daya Hidup
Mereka adalah peniup roh ke dalam tubuh perfilman Indonesia yang telah mati suri begitu lama. Di masa lalu, saya menyebutnya "The New Kids on the Block" (TEMPO, 7 Desember 1998). Kata "new" tentu saja sudah mulai usang karena di dalam kurun waktu tiga tahun, sebagian dari mereka sudah menghasilkan karya-karyanya yang baru, sementara di belakangnya sudah bertumbuhan belasan sineas angkatan yang lebih muda lagi. Sutradara Garin Nugroho menyebutnya sebagai Generasi Multimedia, yaitu generasi yang nyaman untuk membuat film iklan, klip video, film dokumenter sekaligus film layar lebar. Beberapa rekan menyebutnya sebagai Sineas MTV karena mereka lahir pada periode ketika budaya pop ala MTV tengah mendominasi gaya hidup dan cara berpikir mereka. Seorang sineas mengatakan, film Indonesia sudah lama mati ketika film Langitku Rumahku diturunkan dari bioskop karena penonton yang terlalu minim. Secara resmi, film Indonesia resmi dimakamkan pada tahun 1993, ketika akhirnya Festival Film Indonesia ditiadakan. Setelah "kematian" resmi itu, toh masih ada Garin Nugroho, yang memproduksi film Bulan Tertusuk Ilalang, dan N. Riantiarno dengan Cemeng 2005. Tetapi, film Kuldesak (1998) karya kwartet Mira Lesmana, Nan T. Achnas, Riri Riza, dan Rizal Manthovani dapat dianggap sebagai pelopor sineas muda yang berupaya membangkitkan perfilman Indonesia.

Kenapa Kuldesak? Keempat sutradara ini bukannya menggebrak dunia sinema dari segi pemikiran ataupun visualisasi. Mereka sendiri mengaku, bahkan dari segi format pun, mereka terinspirasi oleh trilogi The New York Stories (Martin Scorsese, Francis Ford Coppola, dan Woody Allen). Dari segi pengucapan dan visualisasi, sebagian segmen film itu jelas dipengaruhi karya Quentin Tarantino. Dari segi penuturan, mereka melakukan dekonstruksi keutuhan sebuah cerita sehingga begitu banyak media massa yang segera teringat pada Jean-Francois Lyotard. Grand recit atau dongeng besar itu telah hancur. Kini yang hidup adalah serpihan-serpihan kisah kecil yang tak bisa disatukan menjadi kesatuan. Analisis yang menarik, tapi agak tergesa. Saya lebih tertarik melihat karya ini dari proses penciptaan dan produksi. Dari segi produksi, film ini adalah sebuah terobosan, sebuah gerilya. Bukan hanya karena para pemain, sutradara, dan kru film tidak dibayar, tetapi juga karena pada tahun 1996 mereka memberanikan diri untuk shooting tanpa izin resmi. Ingat bagaimana suasana Orde Baru, lengkap dengan Departemen Penerangan-nya yang menyelenggarakan peraturan yang akhirnya bukan membuat sebuah tata cara, tetapi lebih memperlihatkan kekuasaan yang represif terhadap penciptaan. Keempat sutradara ini bahkan nekat menerobos peraturan bahwa seorang sutradara harus menjadi asisten sutradara dulu sebanyak empat kali, peraturan bahwa para pemain dalam film tersebut haruslah anggota Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) dan produser film haruslah anggota Persatuan Produser Film Indonesia (PPFI). Keempat anak muda ini menggalang rekan-rekannya dalam dunia film tanpa memusingkan tetek-bengek peraturan konyol—yang toh sering dilanggar juga oleh warga komunitas film Indonesia. Shooting jalan, editing jalan.

Tersendat-sendat, tentu saja, karena segalanya serba gratis dan sehari-hari mereka juga harus mencari nafkah. Setelah Orde Baru jatuh, mereka akhirnya mendapatkan izin. Ini adalah sebuah keberuntungan sejarah, tetapi keberanian mereka untuk "nekat" di masa Orde Baru itu tetap menjadi catatan penting. "Seandainya toh Orde Baru tetap hidup dan peredaran film Kuldesak dipersulit karena soal izin dan administrasi, kami sudah siap mengedarkan dengan gaya ngamen kampus ke kampus," tutur Mira Lesmana, yang mengakui bahwa peristiwa jatuhnya Orde Baru tak pernah diduga sebelumnya. Bagaimanapun, Kuldesak tetap bisa dianggap sebagai film yang memelopori semangat menghidupkan perfilman Indonesia. Di dalam bahasa Seno Gumira Ajidarma, cara-cara ini adalah cara "sinema gerilya" yang memiliki "sikap mandiri dalam bersinema; mandiri ekonomi, mandiri ide, mandiri organisasi, dan mandiri sistem produksi". Selebihnya, sejarah bergulir. Selain atau setelah keempat nama-nama itu, ada sineas-sineas lain, yang lama, yang baru, yang timbul, yang tenggelam, sesuai dengan hukum alam. Mereka mengenakan berbagai topi: sutradara, aktor, penulis skenario, produser, penata kamera, penata artistik, dengan medium layar lebar dan televisi. Di sana bertebaran nama-nama Shanty Harmayn, Rayya Makarim, Hanny R. Saputra, Rudy Soedjarwo, Aria Kusumadewa, dan Jujur Prananto, yang kemudian disusul nama-nama yang lebih baru lagi seperti Teddy Soeriaatmadja, Indra Yudistira Ramadhan, dan seorang sutradara baru yang masih berproduksi tetapi sudah membetot perhatian media massa: Nia DiNata. Belum lagi sineas yang berangkat dari tradisi klip video seperti Rizal Manthovani dan Jose Purnomo, yang juga tengah memproduksi film layar lebar. Apakah sudah waktunya mereka disebut sebagai sebuah angkatan atau generasi New Indonesian Cinema atau Sinema Indonesia Baru? Tentu saja tak adil membandingkannya dengan gerakan New German Cinema di Jerman, yang sudah memiliki sejarah dan infrastruktur film yang jauh lebih mapan daripada sejarah film di Indonesia. Kelompok sutradara Wim Wenders, Fassbinder dkk. bergerak dengan sebuah deklarasi yang memiliki unsur "perlawanan" terhadap kecenderungan sebelumnya. Sementara itu, lahirnya sineas-sineas baru kreator Kuldesak yang disusul dengan kelahiran berbagai sineas pascareformasi itu tidak muncul sebagai sebuah kelompok yang mengguratkan sebuah gagasan sinematik untuk melawan sebuah struktur pemikiran sebelumnya.

Sebagai generasi yang rata-rata lahir di tahun 1960-an dan 1970-an, sebagian besar dari mereka tumbuh menjadi sineas yang sangat fasih dengan multimedia, dengan berbagai media audio-visual, bergaya hidup kosmopolit, dan tak mengherankan jika itu semua akan tecermin dalam karyanya, di antaranya film Kuldesak, Bintang Jatuh, dan Culik. Para sineas baru ini rata-rata berlatar belakang pendidikan formal sinematografi. Kecuali Rizal Manthovani, yang berangkat dari tradisi pembuatan klip video, anggota komunitas film lainnya seperti Nan T. Achnas, Riri Riza, Mira Lesmana, Aria Kusumadewa, Hanny R. Saputra, dan Jujur Prananto adalah hasil pendidikan akademis Institut Kesenian Jakarta. Sedangkan Rayya Makarim, Shanty Harmayn, Nia DiNata, Rudy Soedjarwo, dan Indra Yudistira adalah mereka yang menuntut ilmu sinematografi di luar negeri. Dengan sendirinya, mereka adalah sineas yang sudah seyogianya memahami pentingnya sensasi sebuah gambar dan menguasai imaji-imaji secara visual. Kecuali problem pada film-film digital karya beberapa sutradara yang ingin menekan harga tapi akhirnya menghasilkan gambar yang tidak optimal, hampir semua sineas baru yang funky ini adalah "generasi sekolahan" yang menggenggam kemampuan teknis yang andal. Namun, seperti halnya anak-anak muda di bidang kesenian mana pun, tentu saja mereka memerlukan jam terbang yang lebih tinggi lagi. Jalan cerita yang mereka pilih, baik para sineas film layar lebar maupun televisi, bukan hanya terasa tidak orisinal, tetapi juga tidak memiliki konteks. Tokoh-tokoh dalam film Kuldesak tampaknya sengaja dipilih sebagai sosok yang lepas dari keterikatan komunitas, keluarga, atau kakak-adik. Mereka tokoh-tokoh yang hidup begitu saja, timbul-tenggelam begitu saja bak sebuah mimpi buruk. Sensasional. Fantastis. Tapi setelah "pesta usai", apa lagi? Tak ada renungan yang tersisa. Mungkin gaya dekonstruksi keutuhan cerita ini bisa dianggap sebagai sebuah kecenderungan posmodernis, sehingga ada pula kritikus yang secara tergesa-gesa mengucapkan bahwa Kuldesak adalah karya Garda Depan. Yang membedakan para sineas baru ini dengan katakanlah sineas pendahulunya seperti Teguh Karya, Arifin C. Noer, Slamet Rahardjo, atau Putu Wijaya tampaknya adalah tradisi penciptaan karyanya.

Para sineas senior berangkat dari sebuah gagasan. Jalan cerita dan tokoh-tokohnya adalah wakil dari sebuah gagasan dan misi. Dalam penggarapan, mereka merasakan pentingnya deskripsi latar belakang tokoh-tokohnya. Sineas macam Teguh Karya, misalnya, sudah memiliki visi yang jelas melalui tokoh-tokoh dalam film Ranjang Pengantin, Di Balik Kelambu, atau Ibunda. Slamet Rahardjo juga memiliki visi yang jelas dalam perwakilan tokoh dan narasi film Ponirah Terpidana, Kembang Kertas, dan Langitku Rumahku. Mereka menghasilkan film-film yang menyajikan gambar-gambar yang mampu melontarkan makna, sekaligus menampilkan tokoh-tokoh yang memiliki alasan jelas untuk eksis pada sebuah gambar. Tokoh-tokoh dalam karyanya terikat pada sebuah komunitas suku tertentu, agama tertentu, dan lingkungan yang jelas. Namun, kelemahan—jika itu bisa disebut demikian—dalam karya sineas terdahulu adalah kecenderungan mereka untuk menjejalkan dialog-dialog pintar. Unsur dialog di dalam film-film Teguh Karya, Arifin C. Noer, Putu Wijaya, dan Slamet Rahardjo menjadi salah satu titik penting. Sebagai sineas yang berangkat dari dunia teater, kata-kata cantik dan puitis pada akhirnya sering menjadi lebih penting daripada membahasakan pemikiran itu melalui gambar. Ini terutama sering terjadi pada film-film Arifin C. Noer (Biarkan Bulan itu). Dengan gerak gambar-gambar yang konvensional dan adegan yang bertumpu pada solilokui ala teater tokoh Dayan (diperankan El Manik), Arifin lebih menyatakan dirinya sebagai seorang sutradara film teater. Bersama Putu Wijaya, yang menghasilkan Cas Cis Cus, sebuah komedi satire yang penuh sesak dengan dialog komikal, para sutradara "senior" ini terkadang sukar untuk menghindar dari tradisi bahasa tulis di dalam sebuah media visual. Maka, apakah Sinema Indonesia Baru sudah lahir? Dengan produksi yang begini sedikit? (Nan T. Achnas). Tanpa gerakan atau deklarasi? (Garin Nugroho). Tanpa benang merah atau visi yang jelas dari para pelakunya? (kritikus dan sineas se- nior yang sinis). Saya tetap menganggap, Sinema Indonesia Baru sudah lahir sebagai sebuah semangat. Sebuah napas yang mencoba memberikan daya hidup dan kegairahan mencipta. Dan kegairahan ini, apa pun bentuknya, wajib dipelihara dan dipupuk agar kita tak perlu menghadiri sebuah upacara pemakaman. Leila S. Chudori

CINTA DALAM SEPOTONG ROTI / 1990



adalah sebuah Film IndonesiaGarin Nugroho yang diadaptasi dari novel yang berjudul sama karya Fira Basuki. Film ini menceritakan tentang ketidakmapuan seksual seorang pria dan kenyataan masa lalu yang akhirnya membuat merasa lega akan ketidakmampuannya. Film ini juga memasukkan kalimat-kalimat puisi dari penyair Indonesia, Sapardi Djoko Damono.

Mayang (Rizky Theo), Harris (Adjie Massaid) dan Topan (Tio Pakusadewo) merupakan sahabat sejak masa kanak-kanak. Mayang, pengasuh sebuah rubrik majalah wanita, telah kawin dengan Harris, seorang profesional, sedang Topan masih lajang dan jadi fotografer. Mayang dan Harris pergi berlibur untuk menyelesaikan masalah mereka. Topan diajak serta, karena ternyata ia juga hendak pergi ke arah yang sama. Dalam perjalanan terkuaklah segala permasalahan tiga sahabat tadi. Harris mengalami kesulitan seks karena trauma masa lalunya. Mayang yang coba memahami dan membantu, hampir tidak berhasil. Topan ternyata masih menyimpan cinta masa kecilnya pada Mayang. Puncaknya: Harris curiga terhadap Mayang dan Topan. Sebuah film yang melukiskan masalah seks secara tidak vulgar dan dewasa.

P.T. PRASIDI TETA FILM
P.T. ERANUSA FILM

News
11 Mei 1991
Sepotong roti untuk garin

Film perdana Garin Nugroho yang digarap dengan gaya orisinil. Ia cuma mengandalkan tiga pemain, semuanya pendatang baru. Sutradara muda yang penuh harapan. CINTA DALAM SEPOTONG ROTI Sutradara/Skenario: Garin Nugroho Pemain: Tio Pakusadewo, Rizky Erzet Theo, Adjie Massaid Produksi: PT Prasidi Teta Film dan PT Mutiara Eranusa Film SEORANG sutradara adalah seorang pencipta. Ia harus mampu membahasakan ide-ide dan alam sekitarnya dengan visualisasi. Ia wajib menundukkan aktor untuk bisa menjadi bagian dari ciptaannya. Di Indonesia, sutradara yang sudah mampu memenuhi kategori ini tidak banyak, antara lain Teguh Karya, Slamet Rahardjo, Eros Djarot. Garin Nugroho, 29 tahun, kelihatannya mampu masuk ke dalam barisan itu. Cinta dalam Sepotong Roti adalah filmnya yang cukup eksperimental.

Di tengah loyonya sutradara yang tunduk pada selera pasar (baca: selera produser), keberanian Garin Nugroho dengan menggunakan tiga pemain utama sepanjang film patut dipuji. Bukan cuma itu. Karya Nugroho yang pertama ini digarap dengan gaya orisinil. Diiringi ilustrasi musik Kapal Api -- sebuah lagu anak-anak yang abadi -- kamera menyorot sebuah boneka bayi, radio, dan tangan yang mengoles roti dengan selai. Lalu muncul wajah-wajah yang muda dan segar. Haris ( Adjie Massaid) dan Mayang (Rizky Erzet Theo) adalah pasangan muda yang baru setahun menikah. Mereka memutuskan berlibur ke Bali dengan harapan bisa memecahkan persoalan seks mereka. Topan (Tio Pakusadewo), teman kecil mereka yang jadi fotografer, datang dan kebetulan harus memotret ke Lombok. Topan diajak untuk melakukan perjalanan bersama hingga Banyuwangi. Konflik cerita dimulai di sini. Di tengah alam Indonesia yang hijau dan basah itu, Haris tetap tak bisa melupakan bayangan ibunya. "Aku hanya ingin dipeluk sampai pagi," keluhnya kepada Mayang. "Aku istrimu, bukan ibumu," jawab Mayang. Mereka gagal bercinta, gagal berkomunikasi. Di antara kegagalan itu, Topan melangkah masuk. Cinta bagi Topan dan Mayang ditemui sejak mereka menikmati roti srikaya pada masa kanak-kanak -- sementara Haris penyantap roti dengan selai arbei. Mayang dan Topan, sesama pecinta puisi, sesungguhnya sudah saling mencintai. Di atas jerami, Mayang dan Topan meneriakkan puisi Ahmad Al Hadabri.

Keduanya tertegun, bertatapan. Dan Topan mengisap jari Mayang yang terluka dengan kenikmatan. Visulisasi adegan erotis ini begitu halus, tapi toh mampu menunjukkan bagian liar manusia. Inilah keistimewaan Nugroho. Sutradara Indonesia sering mengalami kesulitan untuk menampilkan tema seksual, karena gunting sensor yang angin-anginan. "Film silat dengan adegan yang jauh lebih seronok banyak yang lolos, sedangkan adegan persetubuhan antara Haris dan Mayang yang begitu halus dan artistik dibabat semua, padahal itu adegan yang penting," ujar Nugroho mengeluh. Untung, kita masih melihat telapak tangan Haris dan Mayang yang sedang bertumpu. Kelebihan Nugroho, yang belum disentuh sutradara lain, adalah keberaniannya bereksplorasi dengan bahasa gambar. Seperti bait puisi Ahmad Al Hadabri yang berulang kali dikutip, dan ikutilah angin takdir ..., Nugroho sangat berpihak kepada alam. Aktor dan aktris bukanlah bagian terpenting dari seluruh filmnya, melainkan garis-garis bidang sawah -- yang di-shot dari atas -- bentuk rumput, air hujan, bersatu sekaligus dengan selai roti, tangan fotomodel Lala (Monica Oemardi) dan rok Mayang yang lebar bagai parasut. Lantas adegan mesra Mayang dan Haris di atas komidi putar yang bergantian dengan wajah sepi Topan di bawah hujan sembari bermain harmonika adalah kerja sama yang antara penyunting (Arturo) dan sutradara. Gambar-gambar simbolik itu muncul secara berdesakan dan bergantian. Apalagi, ketika Mayang meletakkan cermin di atas rumput sembari mengenang masa kecilnya. Melalui cermin ini kita disuguhi Mayang kecil yang sedang bermain tali.

Gambar yang mempesona. Risiko Nugroho memakai pemain baru membuat beberapa adegan terasa menjengkelkan. Untung, Tio Pakusadewo yang berakting secara santai bisa melumerkan kekakuan kedua rekannya. Upaya Nugroho menggunakan bait puisi Sapardi Djoko Damono (Aku Ingin ....), Zawawi Imron (Lemper), dan puisinya sendiri (Ningsih) ternyata tak seefektif fungsi puisi dalam film Dead Poets Society. Dalam karya Peter Weir ini, puisi mampu menjadi tenaga gaib yang mengubah anak-anak muda berbuih dengan gelora. Karena akting anak-anak muda yang alami, ditambah keberhasilan pembauran puisi dengan dialog dalam skenario, film itu menjadi puisi. Pada Cinta dalam Sepotong Roti, adegan Mayang berteriak membacakan puisi yang mirip pembacaan deklamasi anak SMA, atau diskusi Mayang dan Topan tentang puisi Zawawi Imron di tengah sarapan, kurang berhasil membaur dengan perangkat gambar lainnya yang sudah begitu puitis. Nugroho cenderung memakai pendekatan dokumentaris -- ia telah membuat sembilan film dokumenter dan dua di antaranya mendapat penghargaan pada FFI 1986 dan 1989 -- hingga ada beberapa adegan yang tak berhasil menjadi bagian dari seluruh film. Misalnya adegan tiga anak berkaca mata hitam yang duduk di balai yang penuh dengan gantungan semangka. Film ini diakhiri dengan happy ending. Topan tidak memasuki "daerah terlarang" itu. Haris berhasil membuang trauma masa kecilnya dan pasangan itu memulai kehidupan bahagia. Akhir yang mengecewakan, karena Nugroho memilih jadi pendongeng. Namun, sebagai sutradara, ia telah berhasil memindahkan gagasannya ke dalam gambar. Dan ia melakukannya dengan baik. Sesuatu yang masih langka di dunia perfilman Indonesia. Leila S. Chudori


09 November 1991
Sutradara muda menunggu nominasi

Akhir pekan ini, juri FFI akan mengumumkan film dan aktor serta aktris yang masuk nominasi. Beberapa sutradara muda lahir dan memberi alternatif. PANGGUNG Festival Film Indonesia (FFI) akan dibuka lagi. Di tengah derasnya serangan film-film Hollywood, dan munculnya belasan cineplex baru yang menopang pemutaran film asing itu, pesta orang-orang film Indonesia yang setahun sekali ini harus tetap diadakan. Dari 70 film yang diproduksi tahun ini, ada 19 film pilihan. Akhir pekan ini para juri akan mengumumkan film dan pemain yang berhasil masuk nominasi. Pekerjaan juri FFI tahun ini, yang diketuai Asrul Sani, tidak terlalu mudah. Bukan karena film-filmnya bagus, melainkan justru karena tidak ada film yang mencuat. Ada beberapa yang layak disorot, misalnya, Potret, Cinta dalam Sepotong Roti, Lagu untuk Seruni, Boneka dari Indiana, dan ZigZag. Yang menarik, meski sutradara senior macam Teguh Karya, Arifin C. Noer, atau Slamet Rahardjo absen, lahir sutradara baru. Mereka adalah Garin Nugroho (Cinta dalam Sepotong Roti), Labbes Widar (Lagu untuk Seruni), Dimas Haring (Langit Kembali Biru), dan Ucik Supra (Rebo dan Robby). Adakah sesuatu yang baru dari mereka? "Ya, mereka semua punya kelebihan masing-masing," kata Teguh Karya. Teguh melihat suatu fenomena baru dari kecenderungan para sutradara baru ini. "Memang belum bisa dikatakan bahwa suatu aliran baru telah lahir, tapi saya melihat adanya alternatif baru dalam berbagai hal, baik dalam visi maupun cara kerja," tambahnya. Ia menunjuk bagaimana film Potret, yang gagasannya dikerjakan secara keroyokan.

Ia juga memuji pengarahan akting di dalam sebagian film karya sutradara baru itu. Tanpa ingin menyebutkan filmfilm mana yang dianggapnya terbaik, Teguh mengatakan bahwa pilihan tema dari para sutradara baru ini pun banyak yang menarik. Garin Nugroho, sutradara Cinta dalam Sepotong Roti, adalah salah satu sosok yang menjanjikan. Sebagai sutradara yang menawarkan alternatif baru dalam memvisualisasikan gagasannya, Garin bak sebuah intan yang perlu diasah. Mungkin karena Garin terlalu mementingkan bagaimana membahasakan idenya ke dalam gambar, lulusan Institut Kesenian Jakarta ini tak berkonsentrasi untuk menundukkan aktor-aktornya. Karya pertama Labbes Widar, Lagu untuk Seruni, juga memiliki beberapa persoalan. Sama seperti rekan sealmamaternya, Garin Nugroho, Labbes pun menyodorkan persoalan pasangan muda. Garin memfokuskan masalah hubungan seks, sedangkan Labbes lebih menekankan persoalan "pertandingan" menundukkan ego antara pasangan Febi (Nia Zulkarnaen) dan Arya (Tio Pakusadewo). Febi ingin mementingkan kariernya sebagai penyanyi dan rela berpisah dengan anak dan suaminya, sementara Arya -sang pencipta lagu -akhirnya harus belajar mengurus putrinya yang masih kecil sementara perlahan wanita lain memasuki kehidupannya. Tidak adil membandingkan film ini dengan Kramer vs Kramer meski ada persamaan tema.

Yang kuat dari film ini adalah akting hampir semua pemainnya sangat wajar. Agaknya, selain karena menggunakan suara langsung, Labbes sebagai sutradara dan Adi Kurdi sebagai pengarah dialog sangat berperan dalam hal ini. "Orang biasa menyangka kalau belum melotot atau berteriak namanya belum akting, tapi akting Tio (Pakusadewo) di dalam film ini sangat alamiah," puji Teguh Karya. Almarhum Nya' Abbas Akup, yang dikenal sebagai "empu" filmfilm komedi situasi, agaknya mencoba menguras sisa-sisa tenaga akhirnya dalam pembuatan Boneka dari Indiana. Film ini bukan saja sindiran halus kepada orang-orang kaya yang tak lelahnya memburu uang, melainkan terutama kisah seorang suami yang mulanya hanya bisa mengangguk seperti boneka, tapi kemudian berhasil membebaskan diri. Secara keseluruhan film ini sangat segar dan komunikatif. Didi Petet dan Lidya Kandouw bisa saja meraih peluang nominasi melalui film ini. Ziz Zag arahan Putu Wijaya memang bukan sebuah karya akbar. Meski demikian, ia menjadi menarik karena Putu membicarakan persoalan yang sangat dekat dengan kita, yakni mencari identitas. Ini adalah sebuah proses yang akan terjadi secara terus-menerus, bukan hanya pada anak-anak muda macam Egi ( Jeffrey Waworuntu), Silvi (Dian Nitami), dan Nanang (Cok Simbara), tapi juga kepada orang-orang tua macam ayah Egi (Zainal Abidin). Film yang mengajak kita merenung ini memang penuh dengan adegan dan peristiwa yang tumpang tindih yang menjadi kekuatan film ini, tapi sekaligus melelahkan. Film yang terasa paling utuh adalah karya Buce Malawau yang berjudul Potret. Buce selama ini dianggap "murid" Teguh Karya meski ia sendiri tak pernah secara resmi berguru pada "suhu perfilman Indonesia" itu.

Potret mengisahkan masa tua Herman Kawilarang (Rachmat Hidajat) di rumah jompo dan ingin kembali kepada anak-istrinya yang dahulu ditinggalkan. Memang Potret akan mengingatkan kepada film Ayahku karya Agus Elias karena sama-sama membicarakan penolakan anak tertua terhadap ayah. Namun, film Potret lebih menunjukkan berbagai dimensi kemanusiaan. Siapa pun yang rajin menonton film-film Teguh Karya akan langsung mengenali pengaruh sentuhan artistik dan visualisasi Teguh itu. Film ini mempunyai peluang besar untuk meraih banyak piala Citra, terutama untuk Rachmat Hidajat, Ully Artha, dan Gusti Randa. Adapun Film Langit Kembali Biru karya Dimas Haring yang terlalu sarat dengan misi atau Taksi Juga arahan Ismail Soebardjo yang terasa nyinyir (meski akting Ayu Azhari memberi peluang untuk nominasi) rasanya belum bisa dikategorikan sejajar dengan lima film tadi. Leila S. Chudori


23 November 1991
Citra dalam sepotong-sepotong

Piala Citra hasil FFI tahun ini terbagi-bagi di banyak film. Wajah baru menggembirakan. Tapi puncak festival sepi, lebih meriah di Mojokerto. "TAK ada film yang bulat. Tak ada yang utuh. Tak ada unsurunsur sektoral yang saling mendukung," inilah komentar Asrul Sani, ketua juri film cerita panjang Festival Film Indonesia (FFI) 1991. Asrul mengatakan hal itu beberapa saat setelah FFI ditutup, Sabtu malam pekan lalu, di TMII Jakarta. Dengan gambaran seperti itu, juri harus memilih film terbaik -pemerintah kabarnya tak suka kalau tak ada film terbaik sebagaimana FFI 1984 di Yogyakarta. Cinta dalam Sepotong Roti, karya sineas muda Garin Nugroho, akhirnya ditetapkan sebagai film terbaik tahun ini. Namun, sebagai sutradara, Garin dinilai belum berhasil. "Garin belum matang, di tengah-tengah film, ia kehabisan napas. Film itu akan jadi lebih bagus kalau diperas menjadi satu jam," kata Asrul. Kelebihan Sepotong Roti adalah "ia memberikan penafsiran relevansi sosial yang baru". Salim Said, kritikus film yang juga anggota juri FFI, melihat bahwa yang terpenting dalam FFI ini: telah lahir sebuah film yang betul-betul sinematis, artinya tidak menekankan diri pada cerita, tetapi cara bercerita dengan gambar. Yang dimaksud Salim tentulah film Garin ini pula, yang juga menyabet Citra untuk fotografi (Soleh Rosselani), artistik (Sapto Busono), musik (Dwiki Darmawan), dan penyunting gambar (Ade Prajadisastra).

Lalu, siapa sutradara terbaik? Imam Tantowi tampil lewat Soerabaia '45. "Sebagai sutradara, dia kuasai mediumnya. Dia bisa mengutarakan, dengan alat sinematik, apa yang ingin dia utarakan. Dia tidak ragu," kata Asrul. Pakar perfilman ini memuji adegan pertempuran yang dibuat Tantowi. Hanya saja, "sebagian besar kelemahan film ini karena skenario." Citra untuk skenario terbaik dipegang Dimas Haring dan Dias Cimenes untuk film Langit Kembali Biru. Pasangan ini juga memperoleh Citra untuk penulis cerita asli terbaik dalam film yang sama. Langit bercerita tentang masa pergolakan di Timor Timur menjelang integrasi ke wilayah RI. Untuk aktris terbaik muncul wajah lama yang sudah kenyang dengan nominasi. Pemeran utama wanita terbaik diraih Lydia Kandou lewat Boneka dari Indiana. Gelar pemeran pembantu wanita terbaik disabet Rina Hassim lewat Zig Zag. Kedua aktris ini tak hadir di puncak FFI. Untuk aktor ada wajah lama dan baru. Yang lama, Rachmat Hidayat untuk permainannya di film Boss Carmad. Wajah baru, Tio Pakusadewo, lewat film Lagu untuk Seruni. Film terakhir ini juga mendapat Citra untuk penata suara terbaik atas nama Hartanto. Dengan tersebarnya kekuatan pada beberapa film, kata Asrul, pertarungan para juri untuk menentukan pemenang menjadi sangat ketat. "Pokoknya, tahun ini paling sulit," katanya. Yang menggembirakan lainnya adalah munculnya anak-anak muda, baik sutradara maupun pemain. "Mereka sekarang sudah siap dan mereka punya kemauan," kata Asrul. Jika ada yang "tidak menyenangkan" dalam FFI kali ini tentulah karena semakin sedikitnya artis yang terlibat. Pada puncak FFI, suasana itu terasa sekali. Banyak artis yang "tiduran di rumah" selain ada yang ber-"FFI di Mojokerto". Siti Nurbaiti dan Dwi S. Irawanto